Tampilkan postingan dengan label Cahaya. Tampilkan semua postingan

Rayya, Cahaya di Atas cahaya Part 2

"jangan sekali-kali bilang kebohongan adalah hal sepele"

Kalimat yang begitu sederhana namun memiliki makna yang sangat dalam. Ya, berbohong seakan-akan mudah bagi orang yang tidak mengerti arti kesejatian. Bohong akan hal yang tak nyata tetapi sangat patut untuk dilakukan. Namun, bagi Rayya, kebohongan bukanlah hal sepele. 

Kemal pun akhirnya dipecat sebagai fotografer Rayya. Gaya Kemal yang penuh dengan manipulasi, tak memihak Rayya untuk bertahan dengan sudut pandang Kemal. Kemudian datanglah Arya, seorang fotografer gaya lama yang masih mempertahankan gaya manusia bukan teknik. Selain itu, arya masih mempertahankan esensi-esensi lama yang mempertahankan era analog yang jago memanipulasi tetapi jiwanya tidak dimanipulasi. 

Perjumpaan dengan Arya, perlahan-lahan membuat Rayya sadar. Dimulai dari Arya yang mengikuti alur pemikiran Rayya. Seolah-olah Rayya memiliki banyak rencana mengenai masa pemotretan Jakarta-Bali. Namun, Rayya hanyalah mengikuti kata hati bukan pemikirannya. Melihat dan mengamati apa yang ia temui. Perjalanan yang memakan waktu berhari-hari dengan pemandangan alam menakjubkan indah di mata. 

Sampai suatu ketika, 

"Rayya memang pelopor"
"bagaimana kalau aku juga berani memelopori dari ujung tebing itu "
"silahkan"
"gila kamu"
"aku gag gila, dan kamu juga gag gila. jadi gag mungkin kamu melompat ke tebing itu"
"kenapa"
"kamu perlu audien 1 lagi, disini aku sendiri"
"maksud kamu bram ya? kamu lancang"
"terjun ke tebing itu baru ada artinya kalau ada bram"
"sok tau, kamu sok tahu"
"memang sok, tapi tahu kan "
"bunuh diri itu adalah sebuah kemungkinan, tapi bukan buat bram"
"kamu memang berjuang keras untuk melepas bram dari pikiran kamu. tapi kamu ambil lagi, peluk-peluk lagi, cium-cium lagi"

"Rayya pengen bunuh diri, Hai Semuanya Rayya pengen bunuh diri"


Sampai akhirnya mereka pun berbicara sambil berpuisi

Cahaya, cahaya, beribu-ribu cahaya, berjuta-juta cahaya
berjuta cahaya di langit, satu cahaya berdiri di atas bukit
berjuta cahaya di langit, satu kegelapan, membeku di atas bukit
berjuta bintang di langit, mengepung, mengerumuni satu bintang di atas bukit

Alah, diem ah
Rayya, kamu ini cahaya
kamu ini bintang yang bercahaya

Rayya itu gelap
Kegelapan Rayya butuh omong pada cahaya bintang-bintang
tidak sesama kegelapan

Aku memang sedang gelap
Rayya, tapi aku bukan kegelapan
Aku kegelapan, mau apa kamu ?


Image result for rayya cahaya di atas cahaya adegan di atas bukit

Ahh, makna yang dalam pada kumpulan kata-kata. Rayya seolah berkata bahwa dirinya itu gelap bukan seperti bintang yang terang benderang disukai oleh semua orang. Padahal Arya mengatakan bahwa Rayya itu cahaya. Tetapi Rayya menyangkalnya. 

Sejatinya manusia itu gelap, gelap dan gelap selalu melakukan dosa. 
Rayya berkata, "Aku ini gelap, kegelapan Rayya butuh omong pada cahaya bintang-bintang. Tidak sesama kegelapan". Cahaya bintang-bintang seolah-olah berkata pada Tuhan. Butuh bercerita kepada sang Pencipta. Bukan hanya sesama manusia saja.  

Tanpa adanya petunjuk Tuhan, manusia tidak bisa berjalan atau mengambil keputusan dengan benar. Kadang kala manusia ingin mengambil keputusan sendiri tanpa melibatkan Tuhan dan lihatlah apa yang terjadi. Sejatinya hidup, kita perlu untuk bergantung. Nyatanya tempat bergantung yang paling tepat hanya kepada-Nya. 


Ahhh Rayya, kau seperti magnet yang membuatku untuk terus mengikuti jejak-jejak ceritamu. Cerita berbalut Religi tetapi tersaji dalam keindahan kata-kata puitis nan indah. 

Setelah berpuisi dalam sajak, keduanya pun melanjutkan perjalanan bunuh diri Rayya....






Rayya, Cahaya Diatas Cahaya Part 1






Image result for arti pengantinku dalam film rayya


Padhang Bulan by 
Anda Pradana

cahaya kasih sayang
menaburi malam
hidayah dan rembulan 
menghadirkan Tuhan

alam raya...
cakrawala...
pasrah dan sembahyang...

yang palsu, ditanggalkan
yang sejati, datang 
yang dusta, dikuakkan
topeng-topeng, hilang...

jiwa sujud
hati tunduk
padaMu 
Tuhanku

lihatlah-lihatlah mentari baru
yang terbit dari dalam tekadmu
sesudah senja, diujung duka


nikmati hilang, mengalirnya cahaya...
mengalinya cahaya, mengalirnya cahaya...


Selintas, lirik di atas mungkin masih asing di telinga kita. Lirik yang susah untuk dipahami karena memiliki diksi unik yakni mengani agama dan spiritualitas. Yap, ini adalah lagu OST. Rayya (Cahaya di Atas Cahaya).Mungkin film itu sudah berlalu sekitar empat tahunan yang lalu. Namun, bagi saya film ini tidak akan pernah mati untuk dilihat dan dilihat lagi.

Well, film ini sangat-sangat saya acungi jempollllll. Empat jempol jari semua deh, saya kasih. Semua serba pas. Adegan tiap adegan dan kata tiap kata yang terangkai, selalu indah untuk ditelisik maknanya.

Awal mula saya menonton film ini karena seseorang yang mengatakan kalau film ini bagus. Ada makna dibalik tiap diksi. Ada agama tanpa adanya simbol-simbol agama. Ada Tuhan tanpa adanya kata-kata Tuhan dan ada "seksualitas" tanpa adanya sentuhan-sentuhan tangan bahkan maaf "kelamin".

What? Tuhan tanpa Tuhan? Agama tanpa simbol agama ? dan what seksualitas tanpa sentuhan?
Itulah yang seketika ada dalam pikiran saya. Setahu saya, sebuah film selalu identik dengan semua itu dengan menggunakan "tanpa". Mulailah dari situ, saya mulai mencari kemudian melihat film yang berdurasi 1 jam 54 menit ini.

Film ini, membuat saya merasakan apa yang terjadi pada diri saya. Di mana, populer, kemewahan dan semua hingar bingar keindahan dunia sangat didambakan oleh semua orang, termasuk diri saya. Hingga seorang Rayya mengajarkan kepada saya arti meninggalkan semua itu.

Rayya, seorang artis papan atas, bintang tanpa tandingan yang popularitasnya dieluh-eluhkan oleh semua orang. Dia memiliki segalanya. Kemewahan, materi, ketenaran, uang bahkan untuk mencari 100 lelaki yang bersujud dan mencium kakinya, dia pun bisa. Rayya, seolah-olah mengganggap dirinya sebagai "AKU" yang bisa melakukan apapun. Menyuruh semuanya berlaku sesuai dengan yang dia inginkan. Namun, dia lupa. Bahwa dia tak benar-benar bahagia.

Bram, lelaki yang amat ia cintai, pergi meninggalkannya. Dia menikah dengan perempuan lain dan memutuskan hubungan dengan Rayya secara sepihak. Saat itu juga, pertahanan Rayya jatuh berantakan. Rayya seolah kehilangan semua dunianya. Dan yang tersisa hanyalah dendam untuk mengakhiri hidupnya "Bunuh Diri".

Pada saat yang sama, sekuel tentang perjalanan hidup Rayya akan dibuat dokumenter. Rayya harus melakukan perjalanan sepanjang Jakarta-Bali untuk menyelesaikan proses dokumenter hanya ditemani oleh Fotografer. Tanpa ada asisten lain. Saat itu juga, Rayya dengan patah hatinya menjalani syuting. Adegan demi adegan, shoot demi shoot, foto demi foto, ia lakukan sesuai arahan Kemal. Lembayung senja, warna warni. Tetapi Kemal, sang fotografer telah membuatnya marah. Kebohongan pun ia lakukan untuk berdalih. Kata-kata bak penuh cacian terlontar dari mulut Kemal...

"yang gue pelajari itu pisau, pedang, parang, golok dan clurit"


"pisau itu kata-kata loe
pedang itu kalimat loe
parang itu mulut loe
golok itu lidah loe
clurit itu moncong loe"


Kebohongan telah membuat Rayya marah. Karena dengan kebohongan, Rayya ditinggalkan Bram. Kebohongan dan Kebohongan. Sampai akhirnya, Rayya pun berkata ...

"Jangan sekali-kali bilang, kebohongan adalah hal sepele"

silahkan berlajut pada part 2



Cahaya Tak Tahu Kelebihannya

Di dalam kegelapan, semua makhluk hidup di dunia ini membutuhkan cahaya. Seoalah cahaya menjadi nafas kehidupan. Seperti lentera penerang. Namun, bisakah kita melihat cahaya tanpa adanya gelap ? atau bahkan terkadang cahaya tidak akan pernah  muncul jika dalam keadaan terang benderang.
Terkadang cahaya membutuhkan kegelapan karena dengan gelap, cahaya dapat terlihat. Cahaya dan gelap merupakan satu kesatuan yang diibaratkan sebagai dua sisi mata uang atau dalam kehidupan pasti ada dua pembanding. Seperti hitam dan putih. Sedih dan senang begitupun semua yang ada di dunia ini. Karena semuanya merupakan Sunatullah (ketentuan Allah).
Dalam kehidupan, setiap manusia selalu memiliki kelebihan dan kelemahan. Entah keduanya saling berkaitan dan saling membantu atau bisa jadi saling menjatuhkan satu sama lain. Tanpa adanya kelebihan, kita tidak akan mengetahui apa kelemahan kita. begitu pula kelemahan. Tanpa adanya kelebihan, kelemahan tidak akan terlihat. Jadi, tanpa pembanding, maka kita tidak akan tahu di mana kelebihan kita.

Jika tanpa pembanding, maka kamu tidak tahu dimana kelebihanmu. Jadilah cahaya di tengah kegelapan.

               Terkadang kita tidak tahu apa kelebihan kita dibanding dengan orang lain. Kita tidak pernah sadar bahwa semua yang diciptakan oleh Tuhan pasti memiliki kelebihan. Entah kelebihan itu sudah muncul atau belum muncul untuk dikembangkan. Di sini, ane analogikan seperti cahaya. cahaya hanya memiliki cahaya. ia tidak memiliki hal lain untuk diberikan kepada orang selain yang dimilikinya itu. Ia tidak tahu apa kelebihannya ketika ia selalu bersama dengan semua benda yang menghadirkan cahaya. Lantas, saat ia bersama dengan kegelapan, ia akan mengetahui bahwa dengan adanya cahaya, gelap tidak akan menyimpan ketakutan. Dengan adanya cahaya, maka kehidupan baru akan muncul. Semua orang akan menyukainya. 
             Namun yang jelas, selagi cahaya ada untuk menerangi, maka terangilah orang-orang dengan cahaya itu. Seperti halnya hidup. Jadilah diri seperti cahaya. Cari semua kelebihan kita. Jangan hanya merenungi diri karena kita membandingkan diri dengan orang lain. Sehingga yang tampak hanyalah kelemahan dan kekurangan diri. Mungkin memang kita kurang dalam suatu hal namun pastilah kita lebih dalam hal lain.

            Jadilah diri seperti cahaya. di mana cahaya selalu menerangi kegelapan. Sinarilah orang-orang yang ada di sekitar kita. Jangan sampai kita hanya bersinar sendiri namun sekitar kita tetap gelap. Layaknya sebuah lilin, satu lilin yang menyala akan dapat menyalakan semua lilin. Sehingga ketika semua lilin itu dinyalakan, maka tak ada lagi kegelapan dalam ruangan itu. Ya. Yang ada hanyalah terang.